Featured Article
Tampilkan postingan dengan label SOSIOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIOLOGI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

KOHABITASI

 Kohabitasi (cohabitation) yaitu orang dewas yang hidup bersama yang melibatkan hubungan seksual tanpa menikah. Pada saat ini, kohabitasi sepuluh kali lebih lazim daripada 30 tahun yang lalu. Pada masa kini, 60 persen pasangan yang menikah untuk pertama kalinya telah hidup bersama sebelum menikah. Satu generasi yang lalu, jumlahnya hanya 8 persen. Kohabitasi telah menjadi sedemikian lazimnya sehingga sekitar 40 persen anak-anak amerika serikat sempat tinggal dalam suatu keluarga yang dibentuk karena kohabitasi.
            Komitmen merupakan perbedaan yang sangat penting antara kohabitasi dan pernikahan. Dalam pernikahan, asumsi yang dipegang ialah kelanggengan. Dalam kohabitasi pasangan sepakat untuk tetap hidup bersama “ selama berjalan dengan baik.” Pada pernikahan, individu membuat sumpah didepan umum yang secara sah mengikat mereka sebagai sebuah pasangan. Pada kohabitasi, mereka cukup tinggal bersama saja. Perniakhan memerlukan seorang hakim untuk mengesahkan perceraiannya. Jika suatu hubungan kohabitasi memburuk, mereka dapat dengan mudah berpisah dan menceritakan kepada teman mereka bahwa hubungannya tidak berhasil.
Referensi:
James M Henslin. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

KELUARGA GAY DAN LESBIAN


Pada tahun 1989, denmark menjadi negara pertama yang mengesahkan pernikahan sesama jenis kelamin.  Semenjak itu, beberapa negara eropa juga ikut mengesahkan pernikahan sesama jenis kelamin. Anda mengetahui kontroversi disertai dengan perdebatan dan protes karena pada tahun 2004 massachusetts menjadi negar bagian pertama yang mengesahkan pernikahan sesama jenis kelamin.
            Pasangan gay dan lesbian yang tidak menikah secara sah tersebar diseluruh Amerika Serikat. Mereka tidak tersebar secara merata, dan sekitar setengahnya tersebar hanya di dua puluh kota. Konsentrasi tersebar berada di san francisco, los angeles, atlanta, new york city, dan washington, D.C. sekitar seperlima pasangan gay dan lesbian semula menikah sebagai orang heteroseksual. 22 persen pasangan perempuan dan 5 persen pasangan laki-laki mempunyai anak dari pernikahan heteroseksual mereka terdahulu.
            Bagaimanakah bentuk hubungan sesama jenis kelamin? Seperti halnya dengan hal-hal lain dalam kehidupan, pasangan-pasangan ini tidak dapat disamaratakan. Seperti halnya pasangan antar jenis kelamin, kelas sosial memiliki pengaruh yang signifikan, dan orientasi kekehidupan bervariasi berdasarkan pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Sosiolog Philip Blumstein dan pepper Schwartz (1985) mewancarai pasangan sesama jenis kelamin dan menemukan bahwa pertikaian utama mereka ialah mengenai tugas rumah tangga, uang, karier, masalah dengan kerabat, dan penyesuaian diri secara seksual- masalah yang juga dihadapi pasangan heteroseksual. Namun pasangan sesama jenis kelamin cenderung tidak bertahan lama, dan satu alasan bagi disahkannya pernikahan gay ialah agar hubungan-hubungan ini menjadi lebih stabil.

Referensi:  
James M Henslin. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Selasa, 13 Desember 2011

Alasan mempunyai banyak anak bagi negara miskin

Mengapa bangsa yang paling sedikit berindrustrialisasi mempunyai sedemikian banyak anak.........???
ada beberapa alasan yang mendasari permasalahan itu yaitu:
Yang pertama ialah status orang tua. Dibangsa-bangsa yang sedikit berindrustrialisasi, keibuan merupakan status yang paling dihargai yang dapat diraih oleh seorang perempuan. Semaki banyak anak yang dikandung seorang perempuan, semakin ia dianggap telah mencapai tujuan mengapa ia dilahirkan. Demikian pula, seorang laki-laki membuktikan kejantanannya dengan menjadi bapak. Semakin banyak anak yang dipunyainya, khususnya anak laki-laki, semakin baik karena melalui merekalah nama keluarga tetap bertahan.
Kedua, komunitas mendukung pandangan ini. Dalam komunitas mereka anak-anak dipandang sebagai berkat tuhan. Sejalan dengan itu, suatu pasangan harus mempunyai banyak anak. Dengan menghasilkan anak, orang mencerminkan nilai-nilai komunitas yang mereka pegang dan meraih status.
Ketiga, bagi orang miskin dibangsa-bangsa yang sedikit berindustrialisasi, anak-anak merupakan aset ekonomi

referensi:
james M Henslin. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Minggu, 04 Desember 2011

ERVING GOFFMAN


            Erving goffman  (1922-1982) sering dianggap sebagai pemikir utama terakhir yang bergabung dengan mazhab chicago(travers,1992,tseelon,1992), fine dan manning(2000) melihatnya sebagai sosiolog amaerika abad ke-20 yang paling berpengaruh anataratahun 1950 sampai dengan 1970-an. Goffman menerbitkan serangkaian buku dan esai yang melahirkan analisis dramaturgi sebagai varian dari interaksionisme simbolis. Meskipun goffman mengalihkan perhatiannya pada tahun-tahun selanjutnya,ia tetap terkenala dengan teori dramaturginya.
          Karya terkenal goffman tentang teori dramaturgi adalah presentation of self in everyday life terbit pada tahun 1959. Secara sederhana, goffman melihat kesamaan antara pertunjukan teater dengan jenis “tindakan” yang kita jalankan dalam kehidupan dan interaksi sehari-hari.interaksi di pandang sangat rentan,yang hanya bisa dijaga oleh pertunjukan sosial. Buruknya pertunjukan atau disrupsi dilihat sebagai ancaman besar bagi interaksi sosial yang sebagaimana yang terjadi pada pertunjukan teater.
          Analisis dramaturgi ini jelas konsisten dengan akar interaksionisme simbolis. Ia terpusat pada aktor,tidakan,dan interaksi. Bekerja pada arena yang sama sebagaimana interaksionisme simbolis tradisional. goffman menemukan metafora cerdas dalam teater dan memberikan pemahaman baru terhadap proses-proses sosial skala kecil(manning,1991-1992)

pulang kampung yuuuukkk :D

pulang kampung yuuuukkk :D
jangan pada lebay dooong ... hahaha :D

sosiologi 2010 UNY

sosiologi 2010 UNY
qw sama tmen2 :)